Doa Selalu Dikabulkan Karena Rajin Istighfar

Kisah kali ini menunjukkan bukti keagungan amal istighfar yang sungguh bermanfaat bagi kehidupan kita.

Ada seorang hamba Allah yang mengaku mendapatkan keberkahan berupa terkabulnya setiap doa yang ia panjatkan karena rajin melantunkan istighfar setiap saat.

Semoga kisah ini dapat mempertebal keyakinan kita akan dalil-dalil al-Qur’an dan hadis sehingga kita tetap istiqomah untuk mengambil solusi dari ajaran Islam yang pasti benar dan menyelamatkan.

Kisah ini terjadi pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu. Pada suatu saat ketika sedang berpergian, Imam Ahmad ingin menginap di sebuah masjid, dimana beliau berniat untuk menghabiskan malamnya disana.

Namun nampaknya penjaga masjid tidak mengenali siapa beliau ini sehingga ketika beliau meminta izin untuk berada di dalam masjid hingga datangnya waktu subuh, sang penjaga masjid menolaknya. Meskipun beliau sudah berulangkali membujuk sang penjaga masjid untuk diizinkan bermalam di sana, namun keputusan dari penjaga masjid agaknya tidak dapat diganggu gugat.

Akhirnya Imam Ahmad dikeluarkan dari area masjid dan beliau terpaksa mencari tempat bermalam di lain tempat.

Ketika beliau diusir hingga keluar area masjid, kebetulan lewatlah seorang tukang penjual roti yang melihat kejadian itu.

Agaknya tukang roti itu tertarik untuk mengetahui apa yang sedang terjadi kepada Imam Ahmad sampai diusir oleh penjaga masjid.

Ketika Imam Ahmad menceritakan yang dialaminya kepada tukang roti, si tukang roti ini menjadi iba, dan dengan kebaikan hatinya ia menawarkan Imam Ahmad untuk menginap di rumah tukang roti.

Senang dengan tawaran si tukang roti, Imam Ahmad lantas menerima tawaran tersebut dan mereka berdua berjalan menuju rumah si pembuat roti.

Di rumah pembuat roti, Imam Ahmad dijamu dengan baik layaknya seorang tamu. Entah karena ingin menyembunyikan identitas atau karena tidak ditanya oleh tuan rumah, Imam Ahmad tidak mengenalkan dirinya sebagai Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ulama besar yang namanya begitu tersohor.

Lalu setelah beberapa saat bercengkerama, si pembuat roti mempersilakan Imam Ahmad untuk beristirahat, sementara ia sendiri menyiapkan adonan untuk membuat roti untuk ia jual esok hari. Lalu ada yang menarik perhatian Imam Ahmad dari pembuat roti ini. Si pembuat roti bekerja sambil melantunkan istighfar.

Ia terus beristighfar dan terus melafalkannya sampai pekerjaannya selesai. Hal ini didengar oleh Imam Ahmad sehingga membuat beliau terkesan. 

Keesokan harinya, Imam Ahmad yang penasaran kemudian bertanya kepada pembuat roti,”Semalam terdengar olehku lantunan istghfar yang terus menerus engkau baca ketika engkau sedang membuat adonan roti. Katakanlah kepadaku wahai tuan, apakah engkau mendapat sesuatu dari bacaan istighfar yang engkau baca?”.

Hal ini nampaknya sengaja ditanyakan oleh Imam Ahmad karena sebagai seorang ulama yang sangat tinggi ilmu agamanya tentu beliau tahu persis tentang keutamaan istighfar, serta faidah-faidah bagi yang sungguh-sungguh mengamalkannya. 

Si pembuat roti lalu menjawab,“Ya.. Begitulah adanya.. Sungguh saya benar-benar telah mendapatkan faidah dari keutamaan melazimkan istighfar.

Demi Allah, sejak saya melazimkan istighfar, saya tidak memohon sesuatu kepada Allah kecuali pasti dikabulkan. Doa saya selalu diijabah oleh-Nya. Hanya ada satu doa saya yang belum terkabul sampai saat ini.”

Imam Ahmad bertanya,

“Apa itu?”

Si pembuat roti berkata, “(Permohonan untuk) dapat bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal!”

Mendengar hal tersebut, tersenyumlah Imam Ahmad.

Nampaknya beliau sudah mengerti hikmah kejadian diusirnya beliau dari sebuah masjid kemarin malam.

Allah berkehendak mengabulkan doa si pembuat roti dengan perantara peristiwa semalam sampai pada akhirnya beliau bertemu dengan si pembuat roti.

Lalu Imam Ahmad berkata,“Wahai tuan, Saya-lah Ahmad bin Hanbal.

Demi Allah, Allah-lah yang mengaturku sehingga bisa bertemu denganmu.”

Subhanallah…

Advertisements

Perbedaan Mahram dan muhrim ucapan salah kaprah yang membudaya

Seringkali kita mendengar “Dia bukan Muhrimnya jangan dekat-dekat” apakah kata Muhrim tadi tepat untuk mengungkapkan kata sifat orang yang haram dinikahi?
Ini bahasannya:

1.Muhrim (huruf mim dibaca dhammah dan ra’ dibaca kasrah) artinya orang yang melakukan ihram. Ketika jamaah haji atau umrah telah memasuki daerah miqat, kemudian dia mengenakan pakaian ihramnya dan menghindari semua larangan ihram, orang semacam ini disebut muhrim. Dari kata Ahrama – yuhrimu – ihraaman – muhrimun.

2. Mahram (huruf mim dan ra’ dibaca fathah) artinya orang yang haram dinikahi karena sebab tertentu.

Sumber : http://www.konsultasisyariah.com/muhrim-dan-mahram/

Jarak jauh? Tiada lagi

Hari raya, event besar maupun kecil butuh namanya publikasi. Baik berupa woro-woro melalui speaker masjid, flyer maupun banyak media digital seperti sekarang ini
Jaman dahulu,kalau ada event pengajian dikampung, layar tancap ataupun promosi jualan jamu dengan hadiah plus layar tancap, penyelenggara akan memanfaatkan mobil keliling dengan speaker dan dengan teriak-teriak antar kampung guna menarik banyak orang untuk bisa hadir di acara tersebut.
Eh itu dulu.. Sekarang lain lagi
Dengan adanya tekhnologi chatting di telepon pintar makin banyak orang membuat group-group percakapan, baik yang berdasarkan hobi maupun komunitas. Group tersebutlah yang berinteraksi sesama anggota baik melakukan percakapan yang ringan sampai event-event besar.
Contoh saja kejadian hari ini di papua langsung bisa kita dengan diujung pulau indonesia atau bahkan dunia dengan bukti-bukti foto dan lain-lain sebagai penguat kejadian tersebut. Reaksipun langsung terjadi, komentar panas, dingin sampe datar juga dirasakan akan kejadian tersebut.
Jaman sekarang dengan majunya tekhnologi, hampir jarak sangat tidak ada pengaruhnya untuk manusia di bumi ini. Tergantung bagaimana manusia menggunakannya. Mau dengan kebaikan yang membawa manfaat maupun keburukan dengan madharatnya. Wallahu a’lam

#gresik, 02 syawal 1436 alias 18 Juli 2015

Idhul Fitri 1436 H /2015 M

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar, takbir berkumandang di bumi Indonesia malam ini, malam yang dimana semua muslim merasakan klimaks berpuasa selama sebulan. Puasa yang disyariatkan untuk semua muslim, insan yang bersyahadat akan keesaan Alloh dan meyakini kalau Muhammad adalah Rosul yang membawa syariatnya di muka bumi. Syariat yang mana untuk mengatur kehidupan ini, kehidupan dengan nilai-nilai Islam
seperti tahun-tahun sebelumnya, memang aku tidak mengagendakan mudik sebelum hari raya, mudik biasanya aku lakukan sesudah lebaran atau ketika ada keperluan mendadak yang mengharuskan keluarga kita mudik ke kampong halaman
dengan jadwal regu bekerja yang tidak biasa seperti ini, saya memang lebih keliatan “aneh” ketika orang masuk bekerja, aku malah masuk kerja dan begitupun sebaliknya. Awal-awal memang aneh, tapi lama kelamaan enjoy aja.. wkwkwkw
Anak dan istri mungkin juga sudah biasa dengan kebiasaan #Mudik seperti ini, Alhamdulillah Zero Complain sampai detik ini. Biasanya karena perumahan sepi, di gang kita mungkin hanya 3-5 keluarga yang tersisa karena yang lain sedang mudik, kami akan cari makan keluar atau ketempat keramaian semacam Mall atau tempat renang daripada sepi dirumah(anak-anak kesepian ceritanya)

Semoga amalan Ramadhan membekas terhadap jiwa-jiwa muslim dan Masjid terus rame dan banyak orang berbuat baik di Muka bumi ini. amiin

By the way.. apapun cerita lebaranmu, inilah ceritaku

Taqobballahu minna wa minkum, semoga amal-amal kita diterima Alloh(amal selama Ramadhan). Amiin
#Gresik, 02 Ramadhan 1436H

Wisuda Ramadhan

Wisuda Ramadhan

Ramadhan mengajarkan kepedihan
Ramadhan mengajarkan lapar dan haus
Lapar dan haus yang dirasakan kaum papa
Kaum marjinal yang susah menggapai asa bahkan dunia ini enggan
Enggan menyapanya
Ramadhan mengajarkan kita agar berperang
Berperang bukan melawan musuh nyata
Berperang melawan diri sendiri
Hawa nafsu dari kita, nafsu apapun
Nafsu birahi, nafsu marah, nafsu menahan, dan nafsu-nafsu lainnya

Ramadhan akan segera meninggalkan kita semua. Apakah tahun depan akan bertemu dengannya lagi? Tiada satupun orang yang bisa menjamin. Laisa..

Semoga ramadhan berbekas disetiap ummat. Bekas-bekas kebaikannya yang terus menempel dengan refleksi kehidupan dihati kita. Agar damai menyertai kehidupan di bumi

Selamat menyambut wisuda, wisuda ramadhan. Karena hari raya idhul fitri sesungguhnya adalah Wisuda sebenarnya

Gresik, Akhir ramadhan 1436

Panduan Zakat Fitri

Panduan Zakat Fithri

Zakat secara bahasa berarti an namaa’ (tumbuh), az ziyadah (bertambah), ash sholah (perbaikan), menjernihkan sesuatu dan sesuatu yang dikeluarkan dari pemilik untuk menyucikan dirinya.
Fithri sendiri berasal dari kata ifthor, artinya berbuka (tidak berpuasa). Zakat disandarkan pada kata fithri karena fithri (tidak berpuasa lagi) adalah sebab dikeluarkannya zakat tersebut.[1] Ada pula ulama yang menyebut zakat ini juga dengan sebutan “fithroh”, yang berarti fitrah/ naluri. An Nawawi mengatakan bahwa untuk harta yang dikeluarkan sebagai zakat fithri disebut dengan “fithroh”[2]. Istilah ini digunakan oleh para pakar fikih.
Sedangkan menurut istilah, zakat fithri berarti zakat yang diwajibkan karena berkaitan dengan waktu ifthor (tidak berpuasa lagi) dari bulan Ramadhan.[3]
Hikmah Disyari’atkan Zakat Fithri
Hikmah disyari’atkannya zakat fithri adalah: (1) untuk berkasih sayang dengan orang miskin, yaitu mencukupi mereka agar jangan sampai meminta-minta di hari ‘ied, (2) memberikan rasa suka cita kepada orang miskin supaya mereka pun dapat merasakan gembira di hari ‘ied, dan (3) membersihkan kesalahan orang yang menjalankan puasa akibat kata yang sia-sia dan kata-kata yang kotor yang dilakukan selama berpuasa sebulan.[4]
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.”[5]
Hukum Zakat Fithri
Zakat Fithri adalah shodaqoh yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim pada hari berbuka (tidak berpuasa lagi) dari bulan Ramadhan. Bahkan Ishaq bin Rohuyah menyatakan bahwa wajibnya zakat fithri seperti ada ijma’ (kesepakatan ulama) di dalamnya[6]. Bukti dalil dari wajibnya zakat fithri adalah hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ
”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat ‘ied.”[7]
Perlu dipehatikan bahwa shogir (anak kecil) dalam hadits ini tidak termasuk di dalamnya janin. Karena ada sebagian ulama seperti Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa janin juga wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini kurang tepat karena janin tidaklah disebut shogir dalam bahasa Arab juga secara ‘urf (kebiasaan yangg ada). [8]
Yang Berkewajiban Membayar Zakat Fithri
Zakat fithri ini wajib ditunaikan oleh: (1) setiap muslim karena untuk menutupi kekurangan puasa yang diisi dengan perkara sia-sia dan kata-kata kotor, (2) yang mampu mengeluarkan zakat fithri.
Menurut mayoritas ulama, batasan mampu di sini adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ‘ied. Jadi apabila keadaan seseorang seperti ini berarti dia dikatakan mampu dan wajib mengeluarkan zakat fithri. Orang seperti ini yang disebut ghoni (berkecukupan) sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ » فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ قَالَ « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ
“Barangsiapa meminta-minta, padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.” Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi tersebut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Seukuran makanan yang mengenyangkan untuk sehari-semalam. [9]”[10]
Dari syarat di atas menunjukkan bahwa kepala keluarga wajib membayar zakat fithri orang yang ia tanggung nafkahnya.[11] Menurut Imam Malik, ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama, suami bertanggung jawab terhadap zakat fithri si istri karena istri menjadi tanggungan nafkah suami.[12]
Kapan Seseorang Mulai Terkena Kewajiban Membayar Zakat Fithri?
Seseorang mulai terkena kewajiban membayar zakat fithri jika ia bertemu terbenamnya matahari di malam hari raya Idul Fithri. Jika dia mendapati waktu tersebut, maka wajib baginya membayar zakat fithri. Inilah yang menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i.[13] Alasannya, karena zakat fithri berkaitan dengan hari fithri, hari tidak lagi berpuasa. Oleh karena itu, zakat ini dinamakan demikian (disandarkan pada kata fithri) sehingga hukumnya juga disandarkan pada waktu fithri tersebut.[14]
Misalnya, apabila seseorang meninggal satu menit sebelum terbenamnya matahari pada malam hari raya, maka dia tidak punya kewajiban dikeluarkan zakat fithri. Namun, jika ia meninggal satu menit setelah terbenamnya matahari maka wajib baginya untuk mengeluarkan zakat fithri. Begitu juga apabila ada bayi yang lahir setelah tenggelamnya matahari maka tidak wajib dikeluarkan zakat fithri darinya, tetapi dianjurkan sebagaimana terdapat perbuatan dari Utsman bin ‘Affan yang mengeluarkan zakat fithri untuk janin. Namun, jika bayi itu terlahir sebelum matahari terbenam, maka zakat fithri wajib untuk dikeluarkan darinya.
Bentuk Zakat Fithri
Bentuk zakat fithri adalah berupa makanan pokok seperti kurma, gandum, beras, kismis, keju dan semacamnya. Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa. Namun hal ini diselisihi oleh ulama Hanabilah yang membatasi macam zakat fithri hanya pada dalil (yaitu kurma dan gandum). Pendapat yang lebih tepat adalah pendapat pertama, tidak dibatasi hanya pada dalil.[15]
Perlu diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau gandum karena ini adalah makanan pokok penduduk Madinah. Seandainya itu bukan makanan pokok mereka tetapi mereka mengkonsumsi makanan pokok lainnya, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan membebani mereka mengeluarkan zakat fithri yang bukan makanan yang biasa mereka makan. Sebagaimana juga dalam membayar kafaroh diperintahkan seperti ini. Allah Ta’ala berfirman,
فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ
“Maka kafaroh (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” (QS. Al Maidah: 89). Zakat fithri pun merupakan bagian dari kafaroh karena di antara tujuan zakat ini adalah untuk menutup kesalahan karena berkata kotor dan sia-sia.[16]
Ukuran Zakat Fithri
Para ulama sepakat bahwa kadar wajib zakat fithri adalah satu sho’ dari semua bentuk zakat fithri kecuali untuk qomh (gandum) dan zabib (kismis) sebagian ulama membolehkan dengan setengah sho’.[17] Dalil dari hal ini adalah hadits Ibnu ‘Umar yang telah disebutkan bahwa zakat fithri itu seukuran satu sho’ kurma atau gandum. Dalil lainnya adalah dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,
كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ
“Dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menunaikan zakat fithri berupa 1 sho’ bahan makanan, 1 sho’ kurma, 1 sho’ gandum atau 1 sho’ kismis.”[18] Dalam riwayat lain disebutkan,
أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ
“Atau 1 sho’ keju.”[19]
Satu sho’ adalah ukuran takaran yang ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama berselisih pendapat bagaimanakah ukuran takaran ini. Lalu mereka berselisih pendapat lagi bagaimanakah ukuran timbangannya.[20] Satu sho’ dari semua jenis ini adalah seukuran empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang[21]. Ukuran satu sho’ jika diperkirakan dengan ukuran timbangan adalah sekitar 3 kg.[22] Ulama lainnya mengatakan bahwa satu sho’ kira-kira 2,157 kg.[23] Artinya jika zakat fithri dikeluarkan 2,5 kg, sudah dianggap sah. Wallahu a’lam.
Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fithri dengan Uang?
Ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa tidak boleh menyalurkan zakat fithri dengan uang yang senilai dengan zakat. Karena tidak ada satu pun dalil yang menyatakan dibolehkannya hal ini. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bolehnya zakat fithri diganti dengan uang.
Pendapat yang tepat dalam masalah ini adalah tidak bolehnya zakat fithri dengan uang sebagaimana pendapat mayoritas ulama.
Abu Daud mengatakan,
قِيلَ لِأَحْمَدَ وَأَنَا أَسْمَعُ : أُعْطِي دَرَاهِمَ – يَعْنِي فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ – قَالَ : أَخَافُ أَنْ لَا يُجْزِئَهُ خِلَافُ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
“Imam Ahmad ditanya dan aku pun menyimaknya. Beliau ditanya oleh seseorang, “Bolehkah aku menyerahkan beberapa uang dirham untuk zakat fithri?” Jawaban Imam Ahmad, “Aku khawatir seperti itu tidak sah. Mengeluarkan zakat fithri dengan uang berarti menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
Abu Tholib berkata berkata bahwa Imam Ahmad berkata padanya,
لَا يُعْطِي قِيمَتَهُ
“Tidak boleh menyerahkan zakat fithri dengan uang seharga zakat tersebut.”
Dalam kisah lainnya masih dari Imam Ahmad,
قِيلَ لَهُ : قَوْمٌ يَقُولُونَ ، عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ كَانَ يَأْخُذُ بِالْقِيمَةِ ، قَالَ يَدَعُونَ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُونَ قَالَ فُلَانٌ ، قَالَ ابْنُ عُمَرَ : فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Ada yang berkata pada Imam Ahmad, “Suatu kaum mengatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz membolehkan menunaikan zakat fithri dengan uang seharga zakat.” Jawaban Imam Ahmad, “Mereka meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka mengatakan bahwa si fulan telah mengatakan demikian?! Padahal Ibnu ‘Umar sendiri telah menyatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum …).[24]” Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya.”[25] Sungguh aneh, segolongan orang yang menolak ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah mengatakan, “Si fulan berkata demikian dan demikian”.”[26]
Syaikh ‘Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (pernah menjabat sebagai Ketua Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Komisi Fatwa Saudi Arabia), memberikan penjelasan:
“Telah kita ketahui bahwa ketika pensyari’atan dan dikeluarkannya zakat fithri ini sudah ada mata uang dinar dan dirham di tengah kaum muslimin –khususnya penduduk Madinah (tempat domisili Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen)-. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan kedua mata uang ini dalam zakat fithri. Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fithri, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membayar zakat fithri dengan uang, tentu para sahabat –radhiyallahu ‘anhum– akan menukil berita tersebut. Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membayar zakat fithri dengan uang. Padahal para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fithri dengan uang, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita.”[27]
Penerima Zakat Fithri
Para ulama berselisih pendapat mengenai siapakah yang berhak diberikan zakat fithri. Mayoritas ulama berpendapat bahwa zakat fithri disalurkan pada 8 golongan sebagaimana disebutkan dalam surat At Taubah ayat 60[28]. Sedangkan ulama Malikiyah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya dan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa zakat fithri hanyalah khusus untuk fakir miskin saja.[29] Karena dalam hadits disebutkan,
وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Zakat fithri sebagai makanan untuk orang miskin.”
Alasan lainnya dikemukan oleh murid Ibnu Taimiyah, yaitu Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Beliau rahimahullah menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk bahwa zakat fithri hanya khusus diserahkan pada orang-orang miskin dan beliau sama sekali tidak membagikannya pada 8 golongan penerima zakat satu per satu. Beliau pun tidak memerintahkan untuk menyerahkannya pada 8 golongan tersebut. Juga tidak ada satu orang sahabat pun yang melakukan seperti ini, begitu pula orang-orang setelahnya.”[30] Pendapat terakhir ini yang lebih tepat, yaitu zakat fithri hanya khusus untuk orang miskin.
Waktu Pengeluaran Zakat Fithri
Perlu diketahui bahwa waktu pembayaran zakat fithri ada dua macam: (1) waktu afdhol yaitu mulai dari terbit fajar pada hari ‘idul fithri hingga dekat waktu pelaksanaan shalat ‘ied; (2) waktu yang dibolehkan yaitu satu atau dua hari sebelum ‘ied sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ibnu Umar.[31]
Yang menunjukkan waktu afdhol adalah hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.
“Barangsiapa yang menunaikan zakat fithri sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.”[32]
Sedangkan dalil yang menunjukkan waktu dibolehkan yaitu satu atau dua hari sebelum adalah disebutkan dalam shahih Al Bukhari,
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ – رضى الله عنهما – يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا ، وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ
“Dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memberikan zakat fithri kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari Raya ‘Idul Fithri.”[33]
Ada juga sebagian ulama yang membolehkan zakat fithri ditunaikan tiga hari sebelum ‘Idul Fithri. Riwayat yang menunjukkan dibolehkan hal ini adalah dari Nafi’, ia berkata,
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ
“’Abdullah bin ‘Umar memberikan zakat fitrah atas apa yang menjadi tanggungannya dua atau tiga hari sebelum hari raya Idul Fitri.”[34]
Sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fithri boleh ditunaikan sejak awal Ramadhan. Ada pula yang berpendapat boleh ditunaikan satu atau dua tahun sebelumnya.[35] Namun pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini, dikarenakan zakat fithri berkaitan dengan waktu fithri (Idul Fithri), maka tidak semestinya diserahkan jauh hari sebelum hari fithri. Sebagaimana pula telah dijelaskan bahwa zakat fithri ditunaikan untuk memenuhi kebutuhan orang miskin agar mereka bisa bersuka ria di hari fithri. Jika ingin ditunaikan lebih awal, maka sebaiknya ditunaikan dua atau tiga hari sebelum hari ‘ied.
Ibnu Qudamah Al Maqdisi mengatakan, “Seandainya zakat fithri jauh-jauh hari sebelum ‘Idul Fithri telah diserahkan, maka tentu saja hal ini tidak mencapai maksud disyari’atkannya zakat fithri yaitu untuk memenuhi kebutuhan si miskin di hari ‘ied. Ingatlah bahwa sebab diwajibkannya zakat fithri adalah hari fithri, hari tidak lagi berpuasa. Sehingga zakat ini pun disebut zakat fithri. … Karena maksud zakat fithri adalah untuk mencukupi si miskin di waktu yang khusus (yaitu hari fithri), maka tidak boleh didahulukan jauh hari sebelum waktunya.”[36]
Bagaimana Menunaikan Zakat Fithri Setelah Shalat ‘Ied?
Barangsiapa menunaikan zakat fithri setelah shalat ‘ied tanpa ada udzur, maka ia berdosa. Inilah yang menjadi pendapat ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Namun seluruh ulama pakar fikih sepakat bahwa zakat fithri tidaklah gugur setelah selesai waktunya, karena zakat ini masih harus dikeluarkan. Zakat tersebut masih menjadi utangan dan tidaklah gugur kecuali dengan menunaikannya. Zakat ini adalah hak sesama hamba yang mesti ditunaikan.[37]
Oleh karena itu, bagi siapa saja yang menyerahkan zakat fithri kepada suatu lembaga zakat, maka sudah seharusnya memperhatikan hal ini. Sudah seharusnya lembaga zakat tersebut diberi pemahaman bahwa zakat fithri harus dikeluarkan sebelum shalat ‘ied, bukan sesudahnya. Bahkan jika zakat fithri diserahkan langsung pada si miskin yang berhak menerimanya, maka itu pun dibolehkan. Hanya Allah yang memberi taufik.
Di Manakah Zakat Fithri Disalurkan?
Zakat fithri disalurkan di negeri tempat seseorang mendapatkan kewajiban zakat fithri yaitu di saat ia mendapati waktu fithri (tidak berpuasa lagi). Karena wajibnya zakat fithri ini berkaitan dengan sebab wajibnya yaitu bertemu dengan waktu fithri.[38]

Source : http://www.rumaysho.com

Zakat

Zakat
Zakat

SYARAT WAJIB UNTUK MEMBAYAR ZAKAT

Syaratnya mudah, yaitu:
⑴ Merdeka (bukan budak)
⑵ Muslim (orang kafir tidak bayar zakat)

Di zaman ‘Umar bin Khaththab dan zaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada orang-orang kafir dzimmi (orang-orang kafir yang tinggal dibawah kekuasaan kaum Muslimin dan mereka membayar jizyah/upeti).

Apakah mereka membayar zakat? Jawabannya: Tidak.

⑶ Sudah mencapai nishāb
⑷ Haul (sudah mencapai 1 tahun)

Diantara syarat yang paling penting adalah nishāb dan haul.

Dan nishāb barang-barang zakat berbeda-beda. Sebagai contoh, nishāb emas dan perak, nishāb uang, nishāb barang dagangan, nishāb nya sama yaitu sekitar 85 gram emas 24 karat.

• Nishāb emas yaitu sekitar 85 gram emas
Jika 1 gram emas = 500 ribu
Maka 85 gram emas = ±42,5 juta

• Nishāb perak adalah 595 gram
Jika 1 gram perak = 22 ribu
Maka 595 gram perak = ±13 juta

Seseorang jika memiliki emas sampai 85 gram, kapan dia sampai mencapai nishāb, hendaknya dia pasang tanggal hijriyyah. Misal pada tanggal 5 Syawwal ternyata emasnya sudah mencapai 85 gram, maka dikalendernya dia kasih tanda. Kalau sampai tahun depan tanggal 5 Syawwal ternyata emasnya masih 85 gram atau lebih maka dia baru terkena wajib zakat. Tapi kalau ditengah tahun emasnya berkurang menjadi 80 gram, maka tidak terkena wajib zakat.

Contoh, pada tanggal 5 Syawwal emasnya 100 gram, ini belum wajib zakat karena harus menunggu tahun depan (1 tahun), baru terkena nishāb nya. Ternyata pada tanggal 9 Ramadhān beli rumah, emasnya hanya tinggal 80 gram, maka tidak kena nishāb karena kurang dari batas nishāb. Dan pada tanggal 1 Syawwal punya emas lagi, jumlahnya menjadi 100 gram lagi. Maka pada tanggal 5 Syawwal dia tidak perlu membayar zakat karena nishāb telah berkurang dan haulnya dihitung mulai lagi dari 1 Syawwal, yaitu saat kapan emasnya mencapai nishāb.

Tapi tidak boleh mengindari bayar zakat, misal apabila sudah sampai nishāb emas dan hampir haul lalu sengaja mengurangi timbangan emas agar tidak terkena wajib zakat, maka Allāh Maha Tahu.

Untuk uang, misal dollar atau rupiah, kata para ulama hukumnya seperti emas dan perak karena dahulu orang bisa tukar menukar barang dengan emas atau perak, dan yang lebih hati-hati adalah mengikuti nishāb perak.

Karena kalau dahulu, sumber uang masih jelas datangnya dari mana, misal orang menyimpan emas dibank lalu pihak bank mengeluarkan kertas bukti dengan uang dollar (jadi dollar ini asalnya emas). Contoh lain menyimpan perak lalu keluar kertas untuk membuktikan bahwasanya dia punya simpanan perak maka real ini merupakan wakil dari perak. (Real ikut nishāb perak dan dollar ikut nishāb emas)

Adapun sekarang sudah tidak jelas asalnya, ini real asalnya apa tidak tahu. Oleh karenanya dianggap saja emas atau perak. Dan kata para ulama utk berhati-hati ikut nishāb yang paling rendah yaitu perak. Jadi kapan kita punya uang 13 juta maka sudah kena nishāb. Kemudian lihat tahun depan, jika ada 13 juta atau lebih maka keluarkanlah zakatnya.

Ada beberapa barang zakat yang tidak butuh haul, contohnya seperti padi, kurma, zabīb, gandum, jagung, ini ada nishāb tetapi tidak ada haulnya. Nishāb nya yaitu sekitar 300 shā’, 1 shā’ = 2.5 kg, jadi 300 shā’ = 750 kg (ada juga yang mengatakan 2.25 kg, jadi sekitar 675 kg).

Kalau seseorang panen kurang dari 750 kg maka tidak terkena zakat karena tidak sampai nishāb. Tetapi kalau lebih dari 750 kg maka terkena nishāb dan langsung dibayarkan zakatnya karena tidak butuh haul.

Sumber: Ust. Firanda Adirja

Ramadhan 1436

IMG_20150711_160938
Penjual Bungku atau juga disebut Bongko Kopyor sedang melayani pembeli. Jajanan Khas Gresik ini banyak dijual ketika musim puasa, rasanya Manis kayak bubur tapi mirip kolak campur kelapa.

Panas dan pengap itulah yang dirasakan pendduduk bumi terutama jawa timur di Ramadhan kali ini, iya sudah beberapa tahun ini Ramadhan bertepatan dengan musim panas. panas yang menyengat kulit dan cuaca yang bikin gerah(kalau kayak gini kangen musim hujan dikala ramadhan, bisa adem-adem-an tanpa khawator haus 😀 )

Sebagai orang yang dilahirkan muslim dan sampai saat ini sampai akhir hayat Muslim, puasa adalah hal biasa, puasa dari segala nafsu(nafsu belanja apalagi.. biarpun THR udha cair tetep harus menahan ). sedari kecil latihan puasa sudah dilatih sama emak dan Bapak dari puasa setengah hari, puasa ashar sampe full puasa seharian, yang disebutin belakangan ada nash nya di Alqur’an kalau puasa beneran, yang setengah hari dan ashar hanya latihan anak kecil saja. ini yang pengin aku terapkan ke anak-anakku, tahun ini mereka belum bisa puasa karena masih kecil, kemarin coba ikut sahur dan puasa setengah hari tapi efeknya malah pada sakit mungkin mereka masih kecil (Insyaa alloh tahun depan yah Nak..)

Puasa adalah menahan, menahan dari perilaku yang nggak terpuji serta menahan melakukan sesuatu yang tidak berguna. sebulan penuh latihan “menahan” dan hasilnya idelanya di 11 bulan kedepan semua perilaku dan akhlak kita tersermin dibulan puasa tersebut. akhlak yang bagus dan empati kepada masyarakat yang kurang mampu
Ujung dari bulan ramadhan ini adalah bagaimana kita diwajibkan(yang mampu) untuk mengeluarkan Zakat fitrah, zakat yang hanya dikeluarkan ketika Ramadhan. banyak juga fenomena ketika ramdhan orang juga mengeluarkan Zakat Mal-nya (mungkin fadhilah amal dibulan ramdhan yang berlpat lipat tersebut). ujung ramadhan juga kita disunahkan mengejar Lailatul Qodar, dimana kita disarankan melakukan qiyamulail agar ketika lailatul qodar keluar maka segala ibadah yang kita jalani dimalam itu adalah bernilai ribuan pahala

apapun ibadah ramdhan anda, semoga semua rangkaian ibadah tersebut hanya diniatkan karena Alloh Ta’ala, agar menghasilkan insan-insan yang bertaqwa

Met Ramadhan 1436
Gresik, Juli 2015